Pendatang boleh heran terjebak banjir dijalan protokol kota Jakarta, tetapi rumah penduduk di Rawa Buaya, Laguna Pluit, Penjaringan, Muara Karang dan Kampung Pulo terendam banjir, mestinya tidak kaget, lha wong itu habitat air. Bisa kita simak dari dialektika dan penamaannya, rawa, laguna, jaring, muara tempatnya air.
Di Kampung Pulo cuma satu kampung yang kering, kampung lain disekitarnya sejatinya ya genangan air, bahwa dimusim kemarau lahan itu kering hal yang wajar, demikian sebaliknya jika dimusim hujan tergenang harap maklum.
Jakarta sudah kebajiran sejak ribuan tahun yang lalu, karena secara ekologi landskap kota Jakarta adalah daerah cekungan antara dua muara sungai besar, Ciliwung di sebelah timur dan Cisadane sebelah barat, dengan beberapa sungai lebih kecil ditengahnya.
Dapat ditelusuri dari struktur sediment geologi yang terdapat dibawah cekungan kota Jakarta yang terbentuk oleh endapan material sungai tersebut. Dan akan terus berlangsung ribuan tahun kedepan, yang dapat merubah tampilannya dari tahun ke tahun adalah rekayasa manusia , bahkan lagunya telah ada jauh sebelum anak cucu kita lahir.
Alam juga benda hidup, dia berdenyut dan bernafas, dimusim kemarau rakit disungai Padang Guci baru mulai menyeberangkan kendaraan dan orang dari jam 9.30 pagi sampai jam 15.30 sore . Lewat waktu itu aliran air berangsur naik dan deras, rotan tali tambat dan orang tidak kuat lagi menghela, dan rakit dapat hanyut dibawa arus deras kesamudera Hindia. Demikian sampai menjelang matahari terbit, arus air menurun dan melemah sampai puncaknya ditengah hari, memberi waktu kepada orang dan rakit untuk jeda.
Bahkan dihutan lestari pegunungan Bukit Barisan, daerah tangkapan hulu sungai Padang Guci, alam terasa berdenyut. Ketika matahari naik uap air dan kelembaban yang semalaman menetes menjadi aliran sungai, sebagian menyusut terhisap naik keudara menjadi awan mendung, sehingga volume dan debit air sungai Padang Guci tinggal separuhnya, ketika matahari condong kebarat debit air kembali normal.
Seakan peristiwa sepele, padahal sumber daya manusia mana yang kuasa mengangkat jutaan meter kubik air keangkasa, kira separuh dari debit air sugai Padang Guci dalam waktu 6 jam, selain kekuatan alam sinar matahari, bukan apa-apanya dibandingkan dengan pompa siaga banjir Pluit Muara Karang.
Dimuara kali Kumbe Merauke selisih muka air pasang duduk jam 4 sore dan muka air surut duduk jam 1 dini hari sekitar 7 meter, rumah-rumah panggung penduduk didirikan jauh kedarat, mereka tahu jika musim banjir dan bulan besar muka air pasang bisa lebih tinggi dari itu.
Berkaca kepada tukang getek di Padang Guci Bengkulu selatan dan warga muara kali Kumbe dipedalaman Merauke, boleh jadi tertinggal dari informasi dan peradaban modern, tetapi hampir tidak ada tabir yang merintangi meraka dalam beradaptasi dengan lingkungan alam sekitar, yang tidak dapat mereka taklukan.
Dari sisi ekonomi warga kota Jakarta mampu menaklukan alam dan lingkungan sekitar, membuat tanggul bantaran kali, membangun rumah bertingkat, mengaspal, cor beton jalan dan melester gang yang becek, bahkan membangun pompa system pengeringan. Boleh jadi pandangan kita terhalang tabir semu teknologi dan informasi, yang kita taklukan hal semu pula, ketika alam dan lingkungan yang sebenarnya datang berdenyut, kita benar-benar tidak siap.
Masih perlu tempo untuk melihat perubahan dari sikap, kebijakan dan rekayasa manusia Indonesia dalam menyikapi hal itu, baru beberapa minggu yang lalu banjir cileuncang dijalan-jalan protokol menimbulkan kemacetan total, sebagian orang menyebutnya sebagai neraka Jakarta, sekarang 15-17 januari 2013 Jakarta kembali terendam banjir sebagai darurat Jakarta, sungguh telah menyisakan banyak pekerjaan rumah bagi seluruh warga kota.
Pemerintah telah melakkukan hal yang benar dalam menetapkan tanggap darurat, sehingga bisa disikapi para penanggung jawab kebijakan dalam penanganan banjir, khususnya dalam proses pengadaan. Masalahnya bukan hanya itu yang harus disikapi warga kota Jakarta, yang nampak belum tersentuh dengan amaran tanggap darurat.
Boleh jadi ada yang baru mendengar amaran itu tapi belum tahu maksudnya, ada yang tahu maksudnya tapi belum tahu harus bertindak apa, tidak salah jika yang terlihat di tayangan televisi mereka beramai-ramai dijalanan banjir, sebagian melakukan swadaya evakuasi lalu lintas berbayar.
Seorang petinggi di kementrian PU mengatakan bahwa check dam Katulampa itu tidak ada pungsinya sama sekali dalam penanggulangan banjir di Jakarta, padahal yang memasang tanda meter tinggi dan debit air disana adalah suku dinasnya, mungkin dipasang masa pejabat sebelumnya, bahwa dia tidak paham fungsinya itu sangat mengherankan.
Sampai sekarang satu-satunya yang berbicara benar dan terbukti dalam banjir Jakarta ya hanya chek dam Katulampa ini, jika ada orang yang menapikan hal itu jelas kelirunya. Sejatinya monitoring dan laporan chek dam Katulampa harus ditingkatkan, jangan hanya tinggi muka dan debit air saja, harus ditambah dengan durasi waktu dalam setiap ketinggian, karena perbedaan durasi dapat diprediksikan kedalam perkiraan lokasi, luas dan kedalaman genangan air banjir yang berbeda, yang akan terjadi di Jakarta.
Di Indonesia telah banyak prosedur darurat penanganan bencana disetiap bidang kegiatan, seperti di BMKG, badan SAR & Reqiu, PMI dan darurat medis, DANKAR, ada badan nasional penanggulangan bencana ( BNPB ) dan BPBD di tiap daerah, bahkan kita dapat melihat peran serta swadaya masyarakat terlatih TAGANA.
Jika ada kelemahan nampaknya hanya soal integrasi dan implementasi dari darurat bencana apapun, kedalam system yang baku yang sesuai dengan sifat bencana, lokasi bencana dan sikap masyarakat bencana. Warga Jakarta hari ini perlu segera memiliki systen darurat evakuasi bencana banjir dan rob Jakarta (sysdebarobta).
Seluruh aparat dan warga kota jakarta harus segera memegang prosedur sesuai peran masing-masing dalam system, segera mendapatkan sosialisasi dan pemahaman peran masing-masing dalam system, dan segera pula melakukannya dalam driel evakuasi, dengan itu kita berharap akan melihat kesadaran dan kesiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana yang lebih baik, inyaAllah.
Secara teknis sysdebarobta akan lebih mudah jika dibandingkan dengan system darurat evakuasi bencana alam tsunami (sysdebat) yang masih terus saya perjuangkan. Jika dilihat dari rentang waktu, ancaman bahaya tsunami dipantai barat pulau Sumatra, hanya punya tempo 10 sampai 20 menit untuk penyelamatan ratusan ribu jiwa manusia.
Sedangkan ancaman bahaya banjir kota Jakarta, bagi warganya punya rentang waktu antara 6 / 10 jam, untuk penyelamatan harta benda dan evakuasi warga ketempat kering, mestinya warga Jakarta masih sempat berbenah dengan tertib.
Kendalanya adalah tim evakuasi kesulitan mengajak warga evakuasi ke pengungsian, pertama karena ancaman bahayanya relatif rendah yaitu kerusakan harta benda dan basah, kedua tidak memadainya jaminan keamanan rumah yang ditinggalkan, ketiga tempat pengungsian yang kurang representativ.
Jika ada sysdebarobta yang telah mengatur setiap badan, setiap warga, untuk bertindak sesuai bidangnya masing-masing, yang telah diatur dalam system yang telah terintegrasi dan terimplementasi dalam segala lapisan masyarakat, termasuk masyarakat pelancong. Niscaya kita akan melihat warga kota tertib dalam berbenah, tertib menuju barak pengungsian (jalan dan gang masih kering), tertib istirahat dibarak pengungsi menanti pergantian menjadi anggota tim relawan.
Petugas sar & resqiu tidak perlu menempuh bahaya, evakuasi warga mengarungi sungai yang sedang banjir besar, tindakan semi heroik itu hanya enak diikuti reporter muda dan penonton TV, banyak cara mudah dan tempo kecuali dalam pelatihan barangkali.
Bahkan bapak presiden pada waktunya akan dapat berbicara benar bahwa, system sedang bekerja, dan beliau dapat menerima laporan data pengungsi dan kemajuan penanganan sysdebarobta dalam interval waktu tertentu, insyaAllah.
Bandung 17 Januari 2013
Hormat saya,
Sobari1sobar@yahoo.co.id
Paartikulir di bandung,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar