Kepada Yth :
Bpk Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta,
Di
Jakarta.
Dengan hormat,
Mohon maaf atas dikirimnya surat ini dan sampai ditangan bapak, karena hanya itu bentuk bela sungkawa yang bisa saya sampaikan, atas musibah banjir yang menimpa warga Jakarta dan sekitarnya. Telah kita pahami bahwa banyak prosedur darurat bencana disemua badan penanggulangan bencana, namun jika disimak dari sisi kinerja operasionalnya satu sama lain terlihat kurang terpadu, apatah melihat sikap masyarakat bencana seakan mereka belum memegang prosedur.
Menurut pengamatan saya ada kemungkinan dalam pelaksanaan maupun secara konseptual memang belum ada system yang terintegrasi dari prosedur darurat bencana yang berserak dimasing-masing penangung jawab kegiatan. Yang mengatur segala wewenang dan tanggung jawab kegiatan, terutama keterkaitannya dalam system secara rinci dan terintegrasi. mulai dari puncuk pimpinan / Manajer Krisis, sampai kepada setiap warga bencana.
Jika bapak berkenan, terlampir draft system darurat evakuasi bencana banjir / rob Jakarta (sysdebarobta), sementara fokus saya kepada network planing diagram (npd) system, uraian kegiatan dan waktu rekaan saya semata.
Tentu uraian aktivitas, waktu dan ketergatungan antar aktivitas dari sysdebarobta yang sebenarnya, harus disusun setelah menilai seluruh prosedur yang terlibat dalam penanggulangan bencana, namun dengan draft ini dugaan awal saya bahwa tidak ada aktivitas yang kritis dari darurat evakuasi bencana banjir / rob Jakarta (debarobta) benar terbukti .
Dalam npd sysdebarobta terlampir kegiatan kritis hanya melewati aktivitas N,O,P dari prakiraan cuaca, V,Q dari informasi hujan, R, S, T, U informasi darurat debit air chek dam Katulampa, selebihnya adalah aktivitas dengan total ploating diatas 30 menit.
Kesimpulannya jika segala prosedur darurat banjir Jakarta dan sekitarnya ditata secara benar, warga Jakarta dan sekitarnya tidak harus terburu-buru, jangan naik perahu karet lewat kali yang lagi banjir besar berbahaya, laksanakan evakuasi dengan lapang lewat gang dan jalan kering, insya Allah sampai dipengungsian. Draft ini belum dijabarkan dalam bentuk barchart namun dalam perancangan nanti dapat dibuat dengan skala waktu 5 menit.
Kemudian harus dibuat pula prosedur darurat banjir dari aktivitas setiap warga genangan, sebagai gambaran saya lampirkan draft prosedur darurat tsunami dari aktivitas setiap warga Banda Aceh. Jika bapak Gubernur sepakat membangun sysdebarobta, saya siap mulai dari pembahasan, perancangan, implementasi, driel evakuasi, evaluasi kinerja system dan logika yang benar, dalam hal meyakinkan warga adalah otoritas bapak Gubernur DKI Jakarta.
Kepentingan saya, jika sysdebarobta telah teruji baik di Jakarta dan sekitarnya, mohon kiranya bapak Gubernur DKI Jakarta dapat mendukung saya dalam, perancangan dan implementasi system darurat evakuasi bencana alam tsunami (sysdebat) di lokasi yang dekat seperti Pelabuhan Ratu sebagai pilot projek, semoga nanti ada dukungan yang lebih besar untuk diterapkan diseluruh daerah rawan bencana tsunami di Indonesia.
Menurut hemat saya implementasi sysdebat jauh lebih penting dan mendesak, mohon maaf, karena ada jutaan masyarakat pulau terluar dan pesisir barat pulau Sumatera, pantai selatan pulau Jawa dan lainnya, yang tidak lebih beruntung dari warga Jakarta, mereka terancam keselamatan jiwanya, harus berhadapan langsung dengan bahaya tsunami dengan telanjang dada .
Terima kasih.
Bandung 21 Januari 2013
Hormat saya
sobari1sobar@yahoo.co.id
Partikeliir di bandung,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar